Kamis, 04 Agustus 2016

It's Always Been You (39)

Pernah tidak kau membayangkan bertemu dengan cinta pertamamu dengan cara yang tragis? Bukan hal yang terlalu buruk, hanya saja kau bertemu dengannya kembali setelah bertahun-tahun berpisah membawa cinta yang masih terjaga di hati, dan yakin bahwa dialah jodoh kita yang pada kenyataannya tidak seindah itu? Atau mungkin kau telah mengalaminya?
Aku pernah dan tidak menyesal telah memilih jalan ini.


_***_


        Namaku Milly, dua bulan lagi aku akan wisuda dari salah satu universitas negri di Yogyakarta. Menantikan masa-masa bahagia melepas masa kuliah yang penuh ujian. Bukannya aku mengeluh sih, hanya saja aku lelah, mungkin stres. Sepertinya otakku ini sangat minimalis, tak mampu menerima banyak hal serius untuk dipikirkan berhari-hari. Seminggu saja aku terlalu memikirkan hal yang membuatku merasa down, kepalaku akan terasa menyakitkan seperti mau meledak bahkan berat badanku bisa turun setidaknya tiga kilo. Mengetahui itu tentu saja aku malah semakin stres, aku tak suka terlalu kurus, seperti manusia yang tak pernah bahagia. Bukan bermaksud merendahkan orang-orang yang bertubuh kurus. Hanya saja tubuhku sudah kecil tak lucu jika berat badanku semakin turun, aku akan terlihat seperti tulang belulang yang dipajang di ruang biologi, bedanya dia tinggi dan aku cilik. Bayangkan!

Kriiing... Kriiing...

   “Duh! Mengagetkanku saja. Siapa yang menelfonku pagi-pagi indah seperti ini? Mengganggu Milly yang sedang bersantai.” Batinku mengambil handphone yang terus berdering di atas meja, di sebelahku.

Aneh, tidak ada namanya.

   “Hallo!” sapaku.

   “Hai Mil! Masih ingat aku?” tanya suara laki-laki di sebrang telefon.

   “Hmm,,, sepertinya aku ingat suara ini.” Aku menaikkan kedua bola mataku berpikir sesaat.

   “Sean.” Ucap laki-laki itu tertawa kecil.

   “Ah! Hai Sean, bagaimana kabarmu? Dimana sekarang?” tanyaku girang.

Pasalnya kami sudah lama tak bertemu sejak kami lulus dari sekolah menengah pertama. Hmm, sekitar tujuh tahun mungkin.

   “Baik saja. Aku sedang berada di Yogya nih. Bagaimana denganmu?”

   “Wah, disini? Aku juga. Aku sedang nganggur menunggu wisudaku dua bulan lagi. Haha.. kau kuliah disini? Dimana?” aku sangat antusias bagaikan bertemu teman lama yang tak jumpa.

   “Hmm, aku berkuliah di Bandung. Kesini hanya liburan saja mengunjungi nenek. Hehe.. hebat ya kau sudah mau lulus saja, aku harus menunggu setahun lagi.”

   “Loh kok bisa? kita kan seangkatan?”

   “Ya, aku menunda setahun kuliah untuk bekerja. Ngomong-ngomong, bisa kan kita bertemu? Sudah lama sekali loh.”

   “Oh, tentu. Kapan?”

    “Sekarang.” Suaranya terdengar sangat yakin.

   “Apa? Sekarang? Masih pagi!” balasku terbangun dari sandaran kursi yang sedang kunikmati. 

   “Iya, keluarlah! Aku sudah menunggumu di depan pagar rumahmu nih! Cepat bukakan!” suaranya berubah jadi memerintah.

    “What?! Jangan bercanda deh.” Balasku tak percaya, namun aku tetap bangkit dari duduk dan berjalan ke depan rumah menyusuri dapur, ruang keluarga, dan ruang tamuku.

Ya, aku sedang menikmati pagi indah terbebasku di belakang rumah yang damai dipenuhi tumbuhan-tumbuhan hijau dan bunga-bunga kesayangan mama. Aku berjalan dengan handphone yang masih kutempelkan di telinga. Sean pasti hanya mengerjaiku.

    “Sean?” aku terpana melihat seseorang di depan pagar rumahku.

Pria tinggi dan kurus menggunakan jaket berbahan parasut berwarna hitam bergaris hijau dipadukan celana olahraga pendek dan sepatu sport. Satu lagi, headset di kupingnya. Aku rasa dia sedang menelefonku.

    “Hai!” sapanya penuh senyum melambaikan kedua tangannya.

    “Bagaimana bisa?” aku menutup telefonnya, menaruhnya di atas meja dan menghampiri Sean.

Sean hanya tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang gingsul itu padaku. Tapi aku tidak membuka pintu pagar, melainkan menaruh kedua tanganku diatas pagarku yang tak berjeruji itu dan menopang kepalaku di atasnya. Aku memandang Sean tersenyum jahil dengan sedikit mendongak karena sekarang dia lebih tinggi dariku. Terakhir bertemu dengannya saat di sekolah, dia itu lebih pendek dariku, makanya kami selalu bertengkar karena aku meledekinya terus. Sepertinya aku kena karma sekarang.

    “Kenapa memandangku begitu?” raut wajah Sean mengerut melihat sikapku yang aneh.

Aku hanya menggeleng dan tertawa kecil, sepertinya aku benar-benar terpesona pada Sean yang baru. Tapi, apakah dia juga sudah lebih dewasa sekarang?

Asik dengan keterpanaan-ku, sampai aku tak sadar bahwa Sean sudah menunduk dan mendekatkan wajahnya padaku. Dia membuat sebuah senyuman di bibirnya.

    “Kau merindukanku ya?” ucapnya seperti bangga pada dirinya sendiri.
 
    “Hmmm... tidak terimakasih. Aku hanya tak percaya saja kau sudah tumbuh dan berbeda.” Balsku menarik senyumanku dan pura-pura tak perduli.

   “Jadi semakin tampan ya?” dia tertawa kembali ke posisinya semula. “yasudah, kau mandi sana! Dan bersiap-siap. Aku akan kembali kemari.” Lanjutnya.

   “Untuk apa?” tanyaku heran.

   “Kita jalan. Oke?” Sean tersenyum yakin.

Oh, aku suka ketika dia terlihat yakin seperti ini. Dari dulu tatapannya padaku tak pernah berubah. Aku bersyukur. Bukan berarti aku mengharapkannya meskipun dulu dia selalu menyukaiku, aku senang dia tidak melupakan aku yang dulu. Apakah dia masih menyimpanku dalam hatinya? Seperti aku menyimpan Leon, kakaknya dalam hatiku? 

   “Baiklah.” Jawabku mengangguk dan membuat senyuman setulus mungkin.

Dia kembali memamerkan gigi gingsulnya dan berbalik dengan berlari-lari kecil.

_***_

     Aku mamakai pakaian seadanya saja, toh hanya jalan dengan Sean. Tak perlu lah cantik-cantik. Dia selalu menyukai aku yang apa adanya. Aku memilih menggunakan dress polos berwarna biru susu dengan corak bunga sakura berwarna pink kalem di ujung kanan bagian bawah dan dihiasi dengan renda-renda kecil dibalik rokku. Akhir-akhir ini aku selalu menyukai dress, karena bisa dipakai untuk keseharianku atau saat ada acara penting sekalipun. Dress tanpa lengan yang sepanjang lutut yang aku padukan dengan cardigan bahan berukat panjang berwarna putih dan sneakers kesayanganku yang berwarna putih. Mmm,,, sepertinya putih tulang.

    “Ups, aku lupa bahwa sepatuku sudah lusuh karena selalu dipakai selama tiga tahun lamanya. Yaa tidak begitu menyedihkan sih malah jadi semakin nyaman dipakai. Memang begini kan gunanya sepatu ini? Semakin hancur akan semakin nyaman. Haha... warnanya yang putih suci saja sudah berubah. Yasudahlah.” Aku bicara pada diriku sendiri memandangi sepatuku yang lusush.

Biar sajalah, kita kan mau main bukan kencan. Haha.. aku tertawa sendiri tak membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Apakah akan canggung?

Kemudian terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah, aku segera membuka pintu rumah untuk membuka pagar.

    “Hai! Kau bawa mobil?” sapaku pada Sean yang sedang berjalan menghampiriku membuka pintu pagar.

    “Mmm, iya.” Kulihat wajahnya tak sebahagia tadi pagi, dia terus menunduk.

    “Ada apa?” tanyaku khawatir.

Kemudian keluarlah seorang pria dari pintu kemudi. Berjalan menghampiri kami.

    “Hai Milly.” Sapa laki-laki itu tersenyum penuh arti dari balik tubuh Sean.

Aku terkejut melihatnya, mataku berkaca-kaca antara senang namun ingin menangis karena terlalu terharu. Aku terdiam seperti patung memandangnya. Pria yang sama tingginya dengan Sean, mengenakan kaos putih yang diselimuti semi-jas berwarna hitam. Pergelangan jasnya yang panjang itu digulungnya sampai siku dipadukan celana panjang hitam longgar yang nampak pas dengan tubuhnya. Leon, Leon kembali? Harusnya aku berdandan. 

     “Milly, hello!” dia melepas topi vendora coklat muda dari atas kepalanya dan melambai-lambaikan tangannya di depan mukaku.

    “Oh, i... iya hai.” Balasku sedikit canggung dan malu.

Aku tak tahu akan nampak sebodoh apa aku sekarang.

    “Maaf Mil, aku membawanya. Dia memaksa. Tapi kau pasti bahagia akhirnya bisa bertemu dengan Leon lagi, kan?” ucap sean yang memaksakan senyumannya.

Aku hanya mengangkat bahuku dan menahan senyumanku seolah biasa saja, aku tak ingin membuat Leon merasa tinggi dan membuat Sean merasa rendah.

    “Yaudah, berangkat!” ucap Leon tersenyum lebar dan berbalik kembali memasuki pintu kemudi.

Aku hanya mengikuti Sean yang berjalan di depanku. Detak jantungku bergejolak, aku menggigit bibir bawahku berusaha menahan rasa bahagia ini. Lalu Sean membukakan pintu penumpang untukku. Di bagian depan, sedangkan Sean duduk di belakang. Maafkan aku Sean, ini pasti berat untukmu melakukannya.

_***_


Aku mendengus pasrah, daritadi membuang muka untuk terus menekuk wajahku, memandang kasihan pada diriku sendiri supaya Leon tak melihatnya. Berjalan di samping seorang anak perempuan berumur empat tahun yang disisi satunya menggenggam tangan Leon erat. Sean pasti tertawa bahagia meledek di belakangku. 

    “Tante! Tante kenapa?” tanya anak itu menark-narik jemariku.

    “Oh, enggak apa-apa ko Nin. Kenapa? Nina mau apa?” balasku ramah memaksaku tersenyuman.

    “Kita cari baju lucu yuk Tan! Cuma tante yang ngerti, kita kan sama-sama perempuan.” Balasnya ceria dan sok genit  seperti tanpa dosa.

Dewasa sekali anak ini. Diajarkan apa saja oleh ayahnya? Ha?! Aku tak melihat kepintaran sama sekali dari ayahnya. Aneh.

    “Nina sayang, ayah gak diajak?” tanya Leon.

    “Ayo ayah sama tanta Milly temenin aku yaa.” Ajaknya, wajahnya sangat bahagia seolah mendapat mainan baru.

    “Nina, kamu sama ayah dulu ya. Tante kebelet nih mau ke toilet sebentar ya.” Ucapku mengelus rambut halusnya.

    “Yaah, iya deh tante. Jangan lama-lama ya, abis ini tante kan janji temenin aku terus beliin aku es krim.” Wajahnya sedikit cemberut melihatku.

    “Iya sayang. Siaap!” balasku memberi hormat seolah menghadapi seorang kapten, dan Nina tertawa bahagia.

Leon membuat senyuman termanisnya, melirikku. Aku mengabaikannya dan pergi mencari toilet.
Sejak pertama kami melaju dari depan rumahku tadi, saat aku sedang asiknya memandang Leon yang akhirnya ada di sampingku, saat itulah Nina menyerbu di antara kita tepatnya dari bangku belakang. Katanya, “Hai tante! Tante temannya om Sean dan ayah ya?” sekejap itulah mataku membelalak melihat anak empat tahun yang periang itu. Aku hanya menjawab terbata-bata seperti habis terkena serangan jantung. 

     “Om? Om Sean?” aku mencibir lucu, Sean dipanggil om. Haha... kemudian aku melirik Sean di belakang bangkuku, kok dia malah tersenyum meledekku? Tunggu dulu, “a...ayah?” aku melanjutkan pertanyaanku pada anak itu, kali ini kerutan di dahiku semakin menjadi-jadi.

    “Iya ayah Leon. Aku sayang ayah! Namaku Nina, tante siapa?” suaranya nyaring di kupingku dengan senyuman lebar yang memamerkan gigi kecil dan ompongnya.
Aku terngaga mendengarnya, ayah? Ayah Leon?

Uh, saat itu terasa sekali seperti ada yang menusuk jantungku dengan katana yang sangat tajam dan terus menekannya hingga tembus ke punggungku hingga habis darahku mengalir deras seperti diperas. Pantas saja Sean melemparkan senyuman meledek padaku tadi. Tak bisa bernafas, sesak, inikah hari kematianku?

Akhirnya aku menemukan toilet setelah tersasar dua kali. Dasar bodoh kau Mil!

    “Oh Tuhan! Kenapa? Kenapa? Kenapa?” aku mengunci diriku di slaah satu bilik toilet dan memekik menahan teriakanku agar tak terdengar.

    “Sejak kapan dia menikah? Sejak kapan dia memiliki anak? Siapa yang beruntung menjadi istrinya? Siapa? Anaknya sangat lucu dan pintar! Aku tidak terima, sungguh!” aku mendumel sepuas-puasnya.

Kemudian aku terdiam sejenak, mengingat awal kami bertemu di sekolah dasar. Ya, cinta monyet yang sempat terputus hingga kembali lagi saat aku duduk di bangku kelas dua menengah pertama. senior di sekolah yang sekaligus menjadi cinta pertamaku, kekasihku dulu. Bahkan hati ini berhasil menjaganya selama hampir sebelas tahun.

Aku tersadar bahwa air mataku telah membasahi pipiku, aku bangkit dan menyerbu keluar menuju westafel, memandang diriku sendiri di kaca besar. Diriku yang menangis, nafasku memburu dan... sendirian.

Air mataku bukannya berhenti malah semakin deras. Aku menggigit bibir bawahku, mencengkram meja westafel erat, menahan tangisanku agar tak meledak.

    “Leon. Harusnya itu aku! Aku yang mencintaimu dan masih menunggumu.” Batinku.
Suasanya terasa hening, tak ada seorang pun disini.

“Sudahlah Milly, sudah terlambat. Terima sajalah, dia kembali bukan untukmu, bahkan dari awal dia memang bukan untukmu...” oh rasanya sakit bicara seperti ini. “dia telah direnggut dan memiliki seorang gadis kecilnya sendiri.” Aku berusha menghibur diriku sendiri, menarik nafas dalam-dalam, menengadahkan kepalaku ke atas menahan air mataku supaya tak tumpah lagi.

    Aku membuka keran dan membasuh wajahku, menghapus air mataku dan menarik nafasku dalam berkali-kali. Aku tak apa-apa, aku kuat. Aku akan merelakannya jika memang penantianku ini harus berakhir.

Aku bergegas keluar supaya Nina dan Leon tak curiga.

    “Kau baik-baik saja?” aku hampir melonjak mendengar tiba-tiba seorang pria yang berdiri santai di samping pintu bicara padaku.

    “Sean?” sejurus kemudian wajahku melemas pasrah.

Sean langsung memelukku, sangat erat sampai detak jantungnya terdengar olehku. Sangat cepat. Ataukah itu milikku?

    “Sean, aku tak apa-apa.” Suaraku mengendap dari dalam pelukannya.

    “Biarkan aku memelukmu sebentar lagi. Aku hanya merasa bahwa kau akan segera pergi meninggalkanku.” Suaranya terdengar parau.

    “Kenapa kau berpikir begitu?” tanyaku heran. Aku tak tahu bagaimana raut wajah Sean sekarang, apakah sedih,  takut, atau biasa saja?

Tapi dia terus diam dan melepaskan pelukannya. Wajahnya tersenyum memamerkan gigi-giginya itu. Mengacak rambutku dan berjalan meninggalkanku. Apa maksudnya itu?

    “Tante! Lama banget sih!” teriak Nina berlari menghampiriku. 

    “Maaf, tadi tante kesasar. Haha...”

Aku melihat Sean menjauh berjalan menuju pagar pembatas yang dibawahnya memberikan pemandangan ramainya orang berlalu lalang di lantai satu mall ini. Sekilas wajahnya nampak sedih, pasrah lebih tepatnya dan membelakangi kami yang hanya berjarak lima meter darinya.

    “Milly, ada yang mau aku katakan.” Ucap Leon menghampiri aku dan Nina.
Aku menunggu.

    “Kau tahu? Istriku, Riana. Telah meninggalkan kami satu tahun lalu...”
Jantungku mulai berdegup kencang.

    “Pergi,,, selamanya?” tanyaku berhati-hati. 

    “Mama gak meninggal tante, tapi ninggalin aku bersama ayah. Tapi aku tidak sedih dan tidak marah, aku sayang mama, lagi pula masih ada ayah yang selalu ada untukku.” Timpal Nina menggenggam tangan Leon tersenyum kecil.

    “Nina butuh seorang mama. Mama yang tidak pergi meninggalkannya. Mil, apa kau masih menungguku? Mencintaiku?” lanut Leon dengan mata mengharapkan jawaban yang membuatnya bahagia.

    “Aku...” Firasatku tak enak, apa aku harus jujur saja demi bisa bersama Leon? Atau berbohong demi menjaga perasaan Sean?

    “Loh, jadi tante suka sama ayah?” Nina terkejut tak percaya.

    “Nina, tante Milly ini pernah menjadi seorang perempuan yang ayah sayangi dan cintai seperti kamu di masa sekolah dulu. Kamu akan mengerti pada waktunya, sayang.” Jelas Leon, dia berjongkok menyamai tinggi Nina dan mengelus rambutnya.

Leon, mendengar ucapanmu yang mengakui bahwa aku pernah menjadi yang kau sayangi dan kau cintai membuatku semakin ingin bersamamu.

    “Aku mengerti yah! Seperti mama kan? Mama juga pernah menjadi perempuan yang ayah sukai.” Jawabnya dengan raut wajah ceria.

Sungguh pintar anakmu Leon, pasti ibunya pun pintar dan cantik. Sangat beruntung. Mataku kosong menerawang lantai-lantai yang kupijak.

    “Nina, marah gak kalau ayah minta tante Milly jadi mamamu? Supaya kamu punya mama seperti teman-temanmu yang lain.” Tanya Leon berhati-hati.

    “Nina gak marah yah. Nina seneng, Nina mau sama-sama tante Milly terus. Aku suka tante Milly!” Nina menjawabnya dengan tanpa beban dan memeluk pinggulku, mendongakkan wajahnya membuat raut memohon.

Aku tersentak melihatnya, apa aku pantas? Leon, aku masih mencintaimu tapi apa aku sanggup menjadi seseorang yang selalu menjagamu dan menjadi panutan bagi Nina? Bagaimana dengan Sean? Tanpa sadar aku meneteskan air mataku, ini berat dan membingungkan. Kepalaku sakit.

    “Tante ko nangis?” tanya Nina melepas pelukannya dan mundur ke samping Leon.

Leon berdiri memandangku khawatir. Aku mendongak memandangnya, matanya yang dulu sangat aku cintai bahkan sampai detik ini.

Aku memeluk tubuh tinggi dan berisi itu se-eratnya. Mungkin Leon bingung. Aku lihat Sean saat memeluk Leon, dia menengok ke arahku, wajahnya datar tapi ada kesedihan terselip seperti menungguku berucap. Air mataku masih mengalir, antara bahagia dan merasa bersalah.

    “Hatiku masih akan selalu dan selalu milikmu Leon.” Ucapku yakin dalam pelukan Leon yang akhirnya membalas pelukanku.

    “Maafkan aku Sean.” Bisikku masih memandang Sean yang akhirnya memalingkan kembali wajahnya. Dia menyerah?

Aku melepaskan pelukanku dan sedikit berjongkok untuk menggendong Nina.

    “Asik, tante gak akan ninggalin Nina kan? Aku gamau tante Milly yang akhirnya meninggalkanku lagi seperti mama Riana.”

    “Nina, tante akan coba demi kamu. Terimkasih mengijinkan tante Milly masuk dalam kehidupanmu dan ayah.” Ucapku sembari menghapus air mata di pipiku.

    “Nina, biarkan tante Milly mencoba dulu ya? Biarkan tante Milly berpikir.” Leon merangkulku dari belakang.

    “Kamu siap menikah denganku? Setelah Sean benar-benar melepasmu. Aku tak akan memaksamu untuk terus menjaga perasaannya dan hubunganku dengannya. Kau tahu kan, kami akan baik-baik saja.” Bisik Leon pada telingaku.

Aku tersenyum mengangguk. Terimakasih Leon, terimakasih Tuhan tetap memberikan Leon padaku.

    “Ayo kita pulang, sudah semakin sore nih.” Ajak Sean menghampiri kami.
Wajahnya memaksa untuk terlihat bahagia, sedikit sunggingan membentuk senyum di bibirnya.

    “Ayo Nina sama om dulu. Kita beli es krim!” ajak Sean memindahkan gendongan Nina padanya dan berlalu pergi.

Kami pun mengikutinya dari belakang, tiba-tiba Leon menyentuh tanganku semakin dalam dan membentuk simpul saling mengikat. Kami berjalan bergenggaman tangan diselimuti rasa bahagia dalam hati.

    “Jangan khawatir Milly.” Bisik Leon, suaranya terdengar sangat menenangkan dan dia memang kakak yang baik, siap bertanggung jawab menjaga adiknya itu yang kelak akan tersakiti, lagi. “Dan, terimakasih Milly, masih menjagaku di hatimu.” Ucap Leon tersenyum.

Senyuman indah yang nantinya akan selalu kulihat setiap bangun dan hendak tidur. Aku tidak akan menyesal untuk memilih bahagia dengan Leon dan Nina.


_Tamat_

Senin, 13 Juni 2016

Sebuah Puisi

 Lenyap



Kau seperti api,
Panasnya menghangatkan dan kobarannya menyemangati.
Tapi juga,
Sentuhanmu sangat menyakiti.

Aku menangisi kesakitanku hingga kau padam karena derasnya air mataku.
Kau menghilang, pergi dan tak kembali.
Aku, masih ingin disini.
Masih ingin kau yang menghangatkanku.

Jika kau tak suka tangisanku,
Lalu untuk apa air mata tercipta?
Jika kau tak suka ledakanku,
Lalu untuk apa emosi tercipta?
Jika kau tak ingin ada di hadapanku,
Lalu untuk apa kau berwujud di hadapanku?

Kau lenyap hanya karena kutumpahkan seluruh air mataku saat kau terlalu membara.
Dan kau tinggalkan asapmu, ya hanya asap.
Asap yang berterbangan memencar di sekeliling-ku.
Tak bisa kumusnahkan, tak bisa ku siram dengan air, tak bisa kubersihkan.

Apakah tak ada niatanmu untuk lebih membakarku?
Sudah cukupkah?
Teruslah bakar aku! Bakarlah hingga kau menjadi kobaran yang lebih buas!
Bakarlah aku sampai tak bersisa,
Agar kau dengan bangganya mampu menarik perhatian yang kau anggap mengagumi keindahan kobaranmu.

Aku ingin menyerah.
Aku ingin berjalan menjauh tapi asapmu terus membuntutiku.
Aku ingin berhenti dan membuatmu kembali hadir tapi tak kutemukan sesuatu untuk dapat menghasilkan api.

Bakar sajalah aku! Agar tak ada lagi aku yang selalu meledak dan menderaikan air mata hanya untukmu.
Ya, hanya untukmu supaya kobaranmu tetap stabil.
Tapi, kau tak tahu itu kan?
Bakarlah aku! Berkobarlah hingga kau pun mati ditelan kobaran buasmu sendiri.

By: Tantan :)