Jumat, 01 Juni 2012

Air mata Penyesalan(23)



Ini baru awal cerita.
         “Aduh! Sory Ta.” Ucap Icha panik. Dia tak sengaja menumpahkan air bakso di mangkuk yang ia bawa.
                “Oh, gak apa-apa Cha.” Jawab Tita tanpa reaksi.
                “Ta, itu panas. Kena tangan lo. Yakin gak apa-apa?” tanya Icha sekali lagi. Teman-temannya yang melihat ikut bengong.
              “Ha? Oh, ya ampun! Icha panaaas! Aduuh.” Ucap Tita mengeluh kesakitan. Aneh, karena bengong ia sampai tak merasakan lepuhan di tangannya.
                “Langsung dicuci sana. Ayo gue anter.” Ucap Dea mengantar Tita ke westafel di kantin sekolah, dan langsung kembali bergabung bersama teman-temannya di meja.
                “Ta, seharian lo bengong terus kenapa? Ada masalah lagi sama kak Rio?” tanya Dea pelan.
                “Kak Rio?” bisik Tita pelan hampir tak terdengar, matanya menerawang menuju gerbang sekolah.
    “Apa Ta?” tanya Icha yang memperhatikan.
    “Gak apa-apa. Gue cuma ngantuk.” Jawab Tita pura-pura tertawa.
Sudah dua bulan mereka tak bertemu, semenjak perpisahan di sekolahnya. Kak Rio tak pernah ada kabar, terakhir kali kak Rio minta Tita untuk berhenti dan tak menghubunginya lagi. Ini berat, setahun bersama di sekolah sebagai adik dan kakak kelas. Harus dilupakan begitu saja, Tita tak bisa. Seperti ada yang hilang, senyumnya masih belum terlatih tanpa kak Rio. Tita sanggup saja untuk berhenti mencintainya, dan tetap slaing berhubungan sebagai adik kakak, tapi kenapa kak Rio tidak?
                Tita terduduk di depan ruang Matematika dua di sekolahnya, hujan sedang turun, kelasnya sedang tak ada pelajaran. Matanya lagi-lagi menerawang ke arah gerbang sekolah. Terlihat anak-anak kelas sedang ngobrol masing-masing. Hatinya sakit setiap kali temannya bertanya tentang kak Rio.
                “Ta, lo masih suka sama kak Rio?” tanya Dian. Dia memang salah satu teman yang tahu cerita Tita dengan kak Rio, meski tidak semua. Sebenarnya ya hampir semua yang kenal Tita tahu tentang Rio, gosip.
                “Oh, gak tahu Yan. Menurut lo?” Ucap Tita balik bertanya.
                “Yee,, elu yang ngerasain kenapa balik tanya gue? Tapi, gue rasa lo masih. Udahlah, dia juga punya kehidupan sendiri.” Ucap Dian, sembari berlalu pergi.
                “Ish, tuh anak. Ngomong tapi malah pergi!” gerutu Tita. Dia berpikir, dan terus merenung, benar apa yang dikatakan Dian. Dia harus maju, untuk apa Tita murung terus. Hati yang terlanjur cinta bukan pada tempatnya, memang harus di akhiri sekarang juga.
_***_

Sebulan berlalu, Tita kembali ceria seperti dulu. Sebenarnya karena kak Rio datang lagi di kehidupan Tita.
                “Cie yang lagi ulang tahun! Traktir tuh.” Ucap Dea saat di kantin sekolah.
                “Ssssst.. Jangan berisik! Gue gak mau diceburin ke kolam ikan sama anak-anak.” Ucap Tita kesal. Teman-temannya hanya tertawa meledek.
                “Hay, Ta!” teriak Mr. Adi dari arah meja kantin. Tita langsung menoleh.
                “Apa, sir?” teriak Tita senang dan langsung menghampiri guru kebanggaanya itu, guru Bhs. Inggris.
                “Makan ya, sir?” tanya Tita sambil celingukan.
                “Iya, nyariin siapa? Rio? Datengin ke rumahnya sana!” Jawab Mr. Adi tersenyum meledek.
                “Oh, gak kok. Udah ah, saya beli makan dulu ya, sir.” Ucap Tita pelan.
Bahkan dia gak ngucapin. Kemana ya dia? Batin Tita dalam hatinya. Dia pun berusaha tak perduli, dan membeli batagor langganannya.
                “Bang Ade, batagor tiga ribu.” Ucap Tita malas.
                “Eh, kamu kelas berapa?” tanya seorang laki-laki yang sepertinya guru baru.
                “Kelas tiga, kenapa?” tanya Tita heran, ia belum pernah bertemu guru itu, mungkin baru.
                “Kok kecil? Hehe.” Ledek orang itu.
                “Iih, tau ah. Makasih bang.” Tita pergi setelah makanannya siap. Tita sekilas melihat lagi orang itu, dia masih melihat Tita dengan senyum. Jelas saja Tita makin heran.
_***_

Seminggu berlalu, ketika Tita, Icha, dan Dea sedang duduk di depan kantor.
                “Ngapain pak di pintu?” tanya Dea.
                “Pingin ngeliat Tita. Gak boleh?” jawab pak Rafi tersenyum. Jawabannya itu jelas membuat terkejut terutama Tita.
                “Nanti pulang bareng ya Ta?” tanya pak Rafi.
                “Mmmm,, insyallah pak.” Jawab Tita ragu. Pak Rafi pun lagi-lagi melempar senyum dan masuk dalam kantor.
Akhirnya, Tita menerima tawaran pak Rafi untuk pulang bareng. Pikir Tita, daripada pulang sendirian. Selama perjalanan, Tita tahu pak Rafi itu masih 19 tahun, setahun di atas Tita. Banyak cerita hidup yang Tita dapat dari pak Rafi, membuat Tita sedikit nyaman berbicara padanya.
                Tepat sehari setelah kejadian itu, mereka memutuskan untuk berpacaran seara sembunyi-sembunyi dari sekolah. Ya, pak Rafi walau bagaimanapun adalah guru piket di sekolah. Sebelum UN selesai Tita akan terus menutupinya, begitu pula pak Rafi.
                “Ta, lo serius udah jadian sama pak Rafi?” tanya Dea, memang hanya dia saja yang baru Tita beritahu.
                “Mm, gue cuma asal terima aja Dey. Gue belum ada rasa, tapi ada yang ngobatin kenapa gue tolak gitu?” ucap Tita dengan sedikit ragu.
                “Yah, gak apa-apa sih. Tapi jangan terlalu cinta, kata Icha nanti kecewa.” Jelas Dea.
                “Iya-iya, gue juga gak akan serius kok, inget jangan bilang siapa-siapa dulu!” ucap Tita tegas.
                “Tenang. Sekarang perasaan lo ke kak Rio gimana? Apa yakin udah bisa lepasin?” tanya Dea lagi.
Tita terdiam lama, dia mencari keyakinan di hatinya.
                “Yakin! Gue udah lepas dia kok, sekarang gue udah bener-bener anggep dia kakak. Titik! Tapi ya harapan gue, dia bisa jadi kakak yang baik untuk gue.” Jelas Tita dengan senyum lebar di bibirnya.
                “Asiklah, bagus tuh. Lanjutkan.” Ucap Dea tertawa.
_***_

U
jian Nasional pun telah selesai. Bahagianya murid-murid SMA Harapan di hari ini. Perjuangan yang mengharu biru, mulai dari bangun subuh sampai siang berkutat dengan soal-soal ujian selama empat hari. Inilah hari terakhir, begitu bel berbunyi tanda selesainya jam ujian terakhir, secara bersamaan semua pintu kelas langsung terbuka lebar dan diserbu keluar oleh murid-murid, mereka bersorak ‘Alhamdulillah, selesai juga!’ begitulah.
                Semua murid saling bertemu teman-temannya, mereka ribut bercerita bagaimana perjuangannya, di sana-sini bising sekali. Tetapi kemana Tita? Ya, dia terlihat sedang jalan menuju kantor secara diam-diam tanpa teman-temannya tahu.
                “Eh, kirain ada di dalem.” Ucap Tita yang terkejut melihat pak Rafi di depan pintu kantor.
                “Udah selesai? Nanti malem kita main yuk?” ucap pak Rafi tersenyum.
                “Udah. Hah? Oh, boleh.” Ucap Tita sedikit malu.
                “Tita! Ngapain di sini?” tanya Icha. Tita terkejut.
                “Oh, gak ngapa-ngapain kok. Mau pulang tah?” tanya Tita salting.
                “Iyah, ayo!” jawab Icha.
Tita pun melirik pak Rafi, dan pamit pulang dengan bahasa matanya. Sungguh konyol rasanya. Mereka pun pulang dengan rasa lega karena berakhirnya penderitaan.
Ujian Nasional telah selesai, haruskah Tita membeberkan semua rahasianya? Akhirnya setelah lewat sebulan, Tita memberanikan diri bercerita pada Icha. Ternyata reaksinya bagus, tak ada masalah, lalu lambat laun semua temannya tahu dengan sendirinya tanpa Tita bercerita. Bagaimana dengan kak Rio? Ya, seperti biasa dia selalu tahu lebih dulu meski Tita tak mau menceritakan padanya.
                “Cepet cerita! Gimana ceritanya sih kamu bisa sama dia? Kakak pingin tahu.” Ucap kak Rio memaksa di telfon.
                “Iih, yah begitu. Jadi begini ceritanya.....” panjang lebar Tita menjelaskan. Rasanya lega bercerita pada kak Rio dengan anggapan seorang kakak. Tak ada masalah.
                “Oh, coba kamu tanya pendapat kakak dulu sebelum nerima dia! Dia tuh ga baik, banyak boongnya kali tuh orang.” Ucap kak Rio. Entahlah itu sindiran atau sebuah nasihat untuk Tita.
                “Tapi kak, dia tuh baik. Aku udah tahu ibu sama adiknya, dan kerjaan dia jelas aku bisa liat. Apanya yag salah?” tanya Tita bingung.
                “Ish, kamu tuh percaya sama kakak. Orang begitu udah keliatan kali. Udah putusin aja!” ucap kak Rio seperti tak punya dosa, enteng sekali.
                “Ih, kakak nih! Aku mau coba percaya sama dia. Waktu aku terpuruk karena kakak yang ternyata malah jadian sama cewek lain, dia dateng. Ya aku pikir itu bisa ngobatin aku. Jadi apa salahnya? Jangan mikir yang negatif deh kak!” jelas Tita sedikit kesal. Rasanya kenapa jadi dia yang bersalah.
                “Iya-iya kakak tahu. Ya udah deh terserah kamu, kakak cuma ingetin doank. Ya udah kakak kan udah denger ceritanya, sekarang kakak mu pergi. Udah dulu ya.” Jawab kak Rio dengan suara lembut. Membuat Tita jadi berhenti untuk merasa kesal.
                “Tapi kak, baru juga sebentar.” Ucap Tita.
                “Ya udah nanti lagi ya.” Jawab kak Rio. Pembicaraan pun berakhir. Masih sedikit terkenang tentang kak Rio, Tita terdiam dan berusaha tidak memikirkannya lagi.
Tak lama, hanya seminggu setelah kak Rio memperingati Tita. Terjadi juga hal yang tak diinginkan Tita. Tepat pukul dua belas malam di tanggal tigabelas, dimana itu sudah masuk hari ulangtahunnya kak Rio. Tita mendapat guncangan hebat. Pak Rafi yang selama ini dia bela di depan teman-teman bahkan kak Rio, ternyata mendua di belakang Tita. Seperti ada petir yang menyambar tubuh Tita bertubi-tubi.
                “Apa ini? Kenapa begini? Gue udah berusaha percaya sama lo! Meski hati ini belum sepenuhnya untuk lo, tapi sakitnya kenapa berlipat?” ucap Tita pada dirinya sendiri.
Telfon berdering, terlihat pak Rafi menghubungi. Tangan Tita gemetar, apa yang harus dia lakukan?
                “Halo?” ucap Tita sedikit gemetar.
                “Ya, Ta. Udah tahu kan semuanya, maafin aku. Akhirnya kamu tahu juga.” Ucap Rafi sedikit menyesal.
                “Aku salah apa sama kamu? Apa alesan kamu? Apa tujuan kamu? Hah!” ucap Tita berat menahan tangisnya.
                “Aku gak ada maksud Ta, maaf. Ya udah kita putus aja.” Ucap Rafi
                “Okeh! Terserah kamu, aku gak butuh! Pergilah sama cewek kamu itu!” telfon pun langsung dimatikan oleh Tita.
Betapa kesalnya dia, betapa sakitnya dia. Tita kembali mengingat saat mereka jalan berdua, duduk berdua di kantin sekolah, saat dia menjenguk Rafi ketika sakit di rumahnya, saat Rafi memeluk Tita dengan sayang, saat Rafi tertidur lelah di kursi tamunya Tita di rumah, senyumnya, bercandanya, kata-katanya.
                “Apa maksud itu semua? Itu semua bulshit! Gila, bisa ya gue ketemu orang begitu? Dosa apa gue ya Allah! Gue udah berusaha baik sama samua orang, bahkan berpikir positif untuk dia, membela dia di depan kak Rio. Dasar bego!” teriak Tita membanting hpnya sendiri ke lantai.
Bagaimana tidak sakit, Rafi itu berwajah malaikat yang tanpa dosa, tapi ternyata di dalamnya itu iblis yang mudah menutupi keburukannya. Rafi dan ceweknya sudah lima bulan bersama tanpa Tita tahu. Tita pun tahu semua itu dari ceweknya yang ia introgasi.
Tita terus menangis, bukan karena kehilangan Rafi, tapi menangis untuk dirinya yang begitu bodoh. Sakit, tak tahan, itu yang dirsakan Tita malam itu. Sepanjang hidupnya belum pernah dia mendapat cerita seperti ini, tidak sebegini menyakitkan. Tiga jam Tita terus menenangkan hati dan pikirannya. Tepat pukul tiga subuh, Tita terpikir kak Rio. Tita hanya mengirim pesan singkat yang berisiikan ucapan ulangtahun. Tak ingin mengecewakan kakaknya itu, meski sakit dia tetap tersenyum untuk kak Rio. Tak lama, tepat pukul empat subuh dia tak tahan juga, akhirnya mencoba menghubungi kak Rio.
“Halo, kak?” ucap Tita sedikit melas.
“Iya ada apa de kok subuh-subuh nelfon?” tanya kak Rio.
“Kak, aku butuh kakak sekarang! Aku pingin kakak di sini sekarang!” ucap Tita sambil sesunggukan menahan tangis.
“Kamu kenapa? Tapi ini subuh dan lagi ujan tahu.” Jawab kak Rio sedikit khawatir.
“Engga kak, Cuma gerimis. Ayolah kesini! Aku putus, dianya jahat kak. Sakit kak, tolong sebentar aja ke sini. Aku tunggu kak.” Ucap Tita terus memaksa.
“Ya udah kakak usahain. Kamu sabar yah.” Telfon pun di matikan. Dia hanya butuh kak Rio sekarang, dia ingin merasa tenang melihatnya.
Di sisi lain, kak Rio yang kebingungan. Apa yang harus dia lakukan sekarang, tidak mungkin dia keluar hujan begini, mau menghubungi Tita rasanya tidak enak, Tita sedang terpuruk. Akhirnya Rio melajukan motor merah kesayangannya menuju rumah Tita yang tidak begitu jauh dari komplek rumahnya. Di jalanan yang sudah mulai lalu lalang kendaraan, di tengah guyuran hujan, Rio tetap melaju dengan terburu-buru. Dia tidak ingin membuat Tita menunggu, dan juga tak ingin terus kehujanan di jalan.
“Kamana sih kak Rio? Lama banget. Aduh, ternyata ujannya emang deras.” Ucap Tita sendiri di depan rumahnya.
Komplek rumahnya memang masih sepi subuh begini, Tita terus mondar mandir menunggu kak Rio, hatinya yang sakit semakin tak tenang menunggu kakaknya itu. Tiba-tiba,,,
Prang!!
Suara piring pecah dari tetangga depan rumah. Terdengar sang ibu yang berteriak memarahi anaknya, dan membuat anaknya itu menangis, sungguh berisik.
                “Huuft, bikin kaget aja. Ya Allah, untung yang pecah piring orang. Aduh kemana kak Rio?” Tita menunggu dan menunggu, tapi tak kunjung datang. Akhirnya ia masuk kedalam rumah menunggu pagi.
Tepat pukul enam pagi.
                “Halo, ada apa sih kak? Nagntuk.” Ucap Tita mengankat telfon dari kak Rio.
                “Ini Tita? Saya temannya Rio.” Jawab seorang cowok di sebrang sana.
                “Hah? Oh, iya ada apa?” tanya Tita yang langsung terbangun dari tidurnya.
                “Ta, masih di atas kasur kan? Dengernya tenang ya.” Ucap cowok itu.
                “Kenapa sih?” tanya Tita semakin tak enak perasaanya.
                “Rio,, Rio,,,”
                “Iya, kak Rio kenapa?”
                “Rio udha meninggal.” Mendengar kata itu Tita terdiam, air matanya menggenang, degup jantungnya semmakin cepat.
                “Kakak, gak usah bercanda pamali bilang orang meninggal.” Ucap Tita akhirnya.
                “Serius, dia subuh minta saya temenin ke rumah kamu, tapi di jalan dia tergelincir karena hujan, tak sengaja menyenggol mobil yang ada di depannya, terus kepalanya terbentur trotoar. Tapi dia gak bisa bertahan, jam setegah enam tadi dia pergi. Kalo kamu gak percaya kamu dateng ajah ke rumah sakit Bakthi sekarang.” Jelas cowok itu.
                Sungguh cobaan ini lebih berat daripada semalam. Tubuh Tita gemetar, dia menjatuhkan hpnya, yang terlintas di otaknya pertama kali adalah saat kak Rio berucap ‘Ya udah kakak usahain. Kamu sbar yah.’
                “Halo! Halo Ta! Kamu masih di situ kan?” teriak cowok itu yang masih di telfon.
Tanpa basa-basi Tita langsung melesat menuju rumah sakit, wajahnya masih kucel karena bangun tidur, bajunya pun masih baju tidur lengkap. Dengan motornya dia melaju kencang, hampir saja ia menabrak kendaraan lain berkali-kali. Setibanya di rumah sakit, Tita mencari temannya itu.
                “Tita! Tita bukan?” tanya seorang cowok.
                “Iyah, ini ruangan kak Rio bukan?” Tita bertanya dengan gemetar.
                “Iyah, saya yang tadi telfon kamu. Ayo saya anter, tuh bibinya lagi di luar nenangin orang tua Rio.
                Terlihat kain putih yang rapih menutupi sebuah tubuh yang kaku. Perlahan Tita menghampiri, jelas, jelas sekali itu wajahnya dengan luka memar akibat kecelakaan. Tita menangis sejadi-jadinya, memeluk tubuh kak Rio yang sudah tak lagi bernyawa.
                “Kakak! Maafin aku. Aku salah gak dengerin kakak. Aku juga maksa kakak temuin aku, aku yang salah. Maaf! Jangan pergi! Ayo bangun! Bukankah ini ulang tahun kakak!” Ucap Tita yang tak tahan rasa sakitnya kehilangan orang yang pernah ia cintai. Rasa bersalah dan sayang yang masih tersimpan, ternyata Tita harus benar-benar kehilangan semuanya.
_***_

Setiap minggu, Tita terus berkunjung ke makam kak Rio ditemani teman-temannya. Menyebar bunga dan air, membacakan doa agar dia selalu tenang di sana.
                “Udah Ta, gak usah nangis terus. Senyum lo ilang semenjak kak Rio pergi. Kita juga ngerasa kehilangan lo yang dulu ceria.” Ucap Icha merangkul tubuh Tita.
                “Maaf Cha, tapi gue masih sayang kak Rio. Gue masih nyesel atas semua ini. Kak Rio bener dan gue malah nentang dia.” Jawab Tita lagi-lagi meneteskan air matanya.
                “Udah Ta, jangan nangis. Kak Rio juga pasti gak mau liat lo begini terus. Kalo lo mau nebus kesalahan lo, berusahalah hidup dengan baik dan tersenyum seperti dulu.” Ucap Icha lembut. Dia sudah seperti ibu yang menasihati anaknya.
                “Iya, meski berat mulai sekarang gue bakal hidup lebih baik lagi untuk kak Rio. Makasih Cha.” Ucap Tita menahan air matanya dan berusaha tersenyum.
Tersenyumlah kak di sana, untukku. Ucap Tita dalam hatinya, ia tersenyum menerawang langit biru di atas kepalanya. Berharap melihat senyuman indah itu lagi.

Karya: Tantanet :)

Jumat, 25 Mei 2012

The Legend of Juna(15)



D
i sebuah desa yang kecil, bernama Desa Sunagakure. Hiduplah seorang lelaki muda yang berjiwa mulia. Sebut saja dia Juna. Dia remaja berusia 17 tahun yang hampir sempurna. Wajahnya tampan dan manis. Kulitnya putih bercahaya, rambutnya yang hitam dan sedikit berdiri, dengan poni kanannya yang menambah ketampanannya. Tak hanya itu, Juna adalah lelaki yang baik hati juga pemaaf. Sayangnya sikap luar dia dingin dan terlihat cool. Namun air mata wanitalah kelemahan dia.
                Dia dibesarkan oleh kakeknya di salah satu gubuk kecil di desa itu. orang tuanya meninggal saat Juna dilahirkan. Juna mampu hidup sendiri membantu kakeknya. Setiap harinya, ia membantu berkebun dan berkeliling desa menjual buah-buahan dengan sepeda ontel milik kakeknya. Tak sulit baginya menjual semua itu. Bagaimana tidak? Begitu Juna masuk pusat desa, semua perempuan langsung menyerbunya dan membeli dagangannya. Tetapi, namanya juga desa kecil, jadi buah-buahannya pun hanya dijual murah. Bagi Juna tak masalah, selama ia dan kakeknya masih bisa makan, dan desa aman juga tentram.
                “Enak sekali mereka tertawa-tawa seperti itu. Padahal mereka tak tahu apa yang mereka pijak ini. Yah, itu lebih baik daripada aku harus melihat mereka ketakutan.” Ucap Juna tersenyum tipis pada dirinya sendiri, ketika berjalan pulang.
                Tak ada yang tahu, kecuali orang-orang yang sudah tua dan Juna sendiri. Asal mula Desa Sunagakure yang penuh tipu daya. Para orang tua tak pernah mengungkap kejadian 80 tahun yang lalu pada anak-anaknya.
                Setibanya di rumah, Juna sangat terkejut melihat rumahnya yang berantakan dan hancur. Dia berlari menjatuhkan sepedanya. Dia mencari-cari apa yang terjadi. Juna tak mendapati kakeknya. Dia berlari ke sana ke mari, dengan nafas yang terburu-buru. Dia pun berlari menuju kebunnya. Memanggil-manggil kakeknya dengan sangat khawatir, dan mendapati sayatan bertanda bintang di bebearpa pohon.
                “Tidak, mungkinkah mereka kembali? Bagaimana bisa?” ucap Juna dalam batinnya. Dia terus berlari mencari hingga akhirnya menemukan kakek tergeletak di tanah.
                “Kakek! Kakek bangun! Ada apa?” teriak Juna menopang tubuh kakeknya.
                “Segel,,, segel i,, itu. Uhuk,uhuk...” ucap kakek yang sekarat.
                “Ada apa dengan segelnya?” tanya Juna khawatir.
                “Te,,, terbuka. Me,, mere,,ka menuju de,,sa.” Lanjut kakek menunjuk gua di balik pohon besar di depannya. Juna tak percaya, siapa yang telah membukanya?
                “Aku per,,,percaya kau ma,,,mampu Juna.” Ucap kakek yang terakhir kali.
                “Kakek! Tidak, kakeeeek!!!” teriak Juna sedih dan marah. Membuat bola matanya yang biru berubah menjadi merah darah, keringat dingin membanjiri tubuhnya.
                “Tidak, aku harus bisa menahan diri sampai kutemukan para Shiho itu!” Bola matanya kembali biru, dan langsung memakamkan kakeknya.
­­_***_

J
una berlari menuju pusat desa, ia khawatir dengan orang-orang di desa. Tapi, dia lihat masih aman-aman saja. Kemana Shiho itu pergi? Dia berjalan pelan, seolah tak ada yang terjadi agar warga tak panik. Matanya tajam mencari siapa yang telah membuka segel itu, hanya kakek dan kedua orangtuanya yang bisa menutup dan membuka segel itu. Lalu ia berhenti di depan gang sempit yang gelap. Dia melihat sosok gadis yang terduduk di samping tumpukan sampah. Begitu Juna mendekat, gadis itu terkejut dan berlari. Gadis itu begitu ketakutan.
                “Tunggu!” Teriak Juna yang langsung mengejar gadis itu.
                Tak perlu berlelah-lelah ria bagi Juna untuk mengejar gadis itu. Di persimpangan jalan di pusat desa, Juna menarik lengan gadis itu. Membuat gadis itu terjatuh di depannya. Gadis itu kesakitan dan melihat Juna tajam. Juna menunduk dan memeluk gadis itu. Ya, dia tahu gadis itu telah melihat Shiho. Itulah salah satu kemampuan Juna.
                “Tak usah takut, aku di sini. Maukah kau bercerita apa yang terjadi, kepadaku?” ucap Juna lembut dan melepas pelukannya. Gadis itu sedikit tenang dan mengangguk, seolah terhipnotis oleh senyuman Juna yang begitu lembut dan tampan.
                Juna membawa gadis itu ke sebuah padang rumput, agar warga tak ada yang tahu. Gadis itu bernama Mina. Ia pun menceritakan, bahwa ia tak sengaja melihat gua besar di belakang rumah Juna. Saat itu ia ingin membantu kakeknya yang kebetulan tergelincir saat mengambil buah. Mina sedang lewat dengan sepedanya. Ia pun membantu kakek memetik buah di kebunnya.
Tanpa sepengetahuan kakek, Mina menyentuh tirai transparan di pintu gua itu. Karena rasa penasarannya, ia menyentuh tirai itu dengan kedua tangannya. Seketika itu cahaya menyerbu Mina dari dalam gua. Mina terjatuh dan tak sadarkan diri. Begitu sadar,matanya mengerjap-ngerjap, dan ia melihat kakek sedang melawan makhluk berjubah hitam besar dengan lubang di bagian tengah tubuhnya. Begitu banyak, salah satunya menghampiri Mina yang masih lemah. Mina ketakutan melihat makhluk itu tak terlihat wajahnya, karena jubah hitamnya dan lubang besar di tubuhnya. Makhluk itu pun menggenggam pedang bintang bergerigi tajam di tangannya, membuat Mina benar-benar takut.
Saat makhluk itu mengayunkan pedangnya, saat itulah kakek tertusuk karena menyelamatkan Mina. Kakek menyuruh Mina lari dan mencari Juna. Akhirnya dengan sekuat tenaga dan rasa takut yang amat sangat, Mina berlari entah kemana. Sampi menuju gang sempit tadi, ia bingung harus kemana.
“Tak apa, sekarang aku di sini. Makhluk itu bernama Shiho, yang artinya Shinigami Hollow. Mereka adalah iblis pencabut nyawa gadungan yang serakah dari tanah terkutuk. Mereka sudah disegel di gua itu sejak 80 tahun yang lalu.” Jelas Juna sembari merasakan damainya angin di padang rumput itu.
“Aku tak mengerti. Kau ini sebenarnya siapa? Dan apa maksud semua ini?” tanya Mina yang masih kebingungan.
“Jika saja segel itu tak dibuka, desa tak akan kembali kacau. Kenapa kau membukanya?” bentak Juna kesal.
“Aku tak tahu! Aku tak mengerti!” Ucap Mina menangis. Rambutnya yang coklat dan panjang, wajahnya yang mungil, putih dan manis seperti anak kecil. Juna tak mampu melihatnya menderita.
“Oh tidak! Jagan air mata yang kau keluarkan! Maafkan aku Mina. Aku akan menjagamu.” Ucap Juna memeluk Mina. Jelas saja, kelemahan Juna memang air mata wanita.
“Aku, sebenarnya bukan manusia seutuhnya. Aku adalah siluman setengah manusia, dari tanah kematian. Aku sudah hidup 80 tahun hingga sekarang, kau mungkin bingung kenapa aku hidup selama itu, tapi aku masih terlihat 17 tahun. Hidupku sudah kekal setelah 17 tahun. Ya, ayahku seorang dewa kematian, dan ibuku setengah siluman. Mereka terbunuh oleh pemimpin Shiho itu!” Jelas Juna dengan sedikit emosi.
“Jadi, kau seperti bangsal Elf dari negeri dongeng?” tanyanya pelan.
“Mungkin begitu. Jadi, apa kau sebenarnya? Yang dapat membuka segel itu hanya keturunan kami.” Tanya Juna terburu-buru.
“Aku tak tahu. Yang aku tahu, aku ini manusia.” Jawab Mina polos.
“Tangan suci.” Ucap Juna berbisik, melihat telapak tangan Mina yang berkilauan bagai permata. Hanya Juna yang dapat melihatnya.
“Apa?” tanya Mina tak mendengar ucapan Juna.
“Tidak, tak seharusnya kau ikut dalam perang ini. Pergilah!” ucap Juna.
Mina diam dan mundur perlahan, dia pergi berlari meninggalkan Juna. Kini saatnya Juna berperang sendiri melawan Shiho-Shiho itu. Tak ada yang tahu Juna seorang siluman kecuali kakeknya. Desa ini terlahir karena jiwa kedua orangtua Juna. Setelah kakek berhasil menyegel Shiho itu di dalam gua, orangtuanya meninggal karena sudah sekarat dan menyatu dengan bumi. Mereka menjadikan ini sebuah Desa Sunagakure, yang artinya desa pasir, karena ada Juna yang harus hidup damai. Dan saat Shiho itu kembali, Junalah yang akan memusnahkan mereka.
_***_
Juna berlari menuju pusat desa yang sudah berantakan, ia menembus warga yang berlari ketakutan. Amarah Juna muncul ketika Shiho terlihat di depan jalan membunuh satu persatu warga desa, dan menjadikan nyawa warga desa sebagai kekuatan abadinya. Dia berlari secepat kilat, menembus angin di sekitarnya.
                “Aaaaargh... Hentikan itu pecundang!” teriak Juna dengan bola matanya yang berubah merah darah, dan sebilah pedang malaikat di tangannya.
                “Kau akan mati di tanganku!” lanjut Juna, kali ini menancapkan pisau di kepala Shiho yang tak terlihat oleh jubah. Shiho itupun terbakar dan musnah, hanya pedang malaikat itu yang mampu memusnahkan Shiho. Karena Shiho takut pada malaikat suci.
Satu Shiho lain datang dari belakang tubuh Juna, menghantamnya ke tanah. Juna terbanting karena tak siap. Shiho itu begitu kejam dan cepat, mereka terus menghantam Juna ke tanah, ke tembok, ke toko-toko, sampai menembus beberapa rumah. Mereka tak memberi Juna kesempatan membalas. Mereka mencoba menusuk Juna dengan pedang tajam mereka, namun Juna terus menghindar.
Sret!
Pedang Shiho akhirnya menggores pipi juna hingga berdarah. Juna marah dan tak tahan karena tak bisa membalas. Kemarahannya yang tak tertahan mampu membuat tubuh aslinya keluar, giginya perlahan tumbuh mejadi tajam seperti srigala. Sayap hitamnya yang besar pun dengan cepat keluar membentang di punggungnya. Kupingnya berubah menjadi kuping serigala yang hitam. Namun pakainnya berubah menjadi sosok shinigami, dengan pedang yang masih sama di tangannya. Matanya penuh amarah, kekuatannya lebih besar dari Shiho tapi tidak pemimpinnya.
                Juna terbang melesat, menerjang tubuh Shiho satu persatu dan menusuknya dengan pedang malaikat. Mereka seolah tak ada habisnya, Juna terus menyerang. Menghantam mereka bersamaan ke tanah hingga berlubang, menyerbu mereka dengan kecepatan pukulan yang Juna miliki. Peperangan terus berlangsung. Akhirnya mereka habis, namun sang pemimpin Shiho datang. Langit terlihat merah karena adanya pertumpahan darah. Juna sudah kelelahan, namun ini yang dia tunggu. Dia ingin melawan sang pemimpinnya.
                The king of Shiho, dia melayang di udara dengan tubuh yang lebih besar, dua lubang di tubuh dan wajahnya. Membawa tongkat transparan yang dialiri arus petir yang marah. Menghamipiri Juna dengan tawa terbahak-bahak. Hanya sang pemimpin yang mampu berbicara.
                “Ahahahaha! Anak yang malang, membalas dendam demi kedua orangtuanya.” Ucap Shiho itu tertawa.
                “Sudah puas tertawanya? Karena kau akan segera musnah di tanganku!” balas Juna sembari melesat terbang dengan sayapnya, menerjang Shiho dengan bola api di tangannya.
Bruk!
Juna menghantam keras tanah hingga membuat lubang besar. Shiho itu mampu menangkis serangan bola api dari Juna begitu saja.
                “Hahahahaha! Desa ini milikku! Aku yang akan menginjak-injak jiwa kedua orangtuamu!” ucap shiho penuh kemenangan.
Juna masih kesakitan di bawah, berusaha bangun namun tangannya bergetar. Aku tak pernah tahu cara ayah dan ibu melawannya, apa yang harus ku lakukan? Ucap Juna dalam hatinya. Dia berusaha bangun dan kembali menyerang, kali ini dengan bola api dari mulutnya, di lanjut bola api raksasa dari kedua tangannya secara bertubi-tubi. Hanya api yang ia miliki. Tapi percuma, Shiho itu belum dapat disentuh sedikitpun oleh Juna. Dia benar-benar kelelahan.
                “Aaaaarrrgh.....” teriak Juna kesakitan. Hanya dengan satu ayunan dari tongkat shiho, Juna mendapat setruman petir yang hebat. Dan menjatuhkan Juna kembali. Juna terjatuh bertumpukan bebatuan semen bangunan. Tubuhnya penuh luka, sayap ujung kanannya sobek, bajunya pun sudah sobek di sana-sini.
                Seketika itu pula, Shiho mulai cepat menghampiri Juna dengan mengayunkan tongkatnya. Juna melihatnya tak percaya, dia panik, tubuhnya begitu lemah. Apa aku akan mati? Dendamku. Gumam Juna, ia berusaha bangkit tapi terlambat.
Juna terpaku melihat seorang gadis dengan cahaya di sekitar tubuhnya. Tertancap tongkat Shiho, seolah ada cahaya yang meledak menembus tubuh gadis itu. Gadis itu mencoba melindungi Juna.
                “Tidak! Mina, kau adalah malaikat yang tak boleh mati!” teriak Juna meneteskan air mata, dan segera menopang Mina di pangkuannya.
                “Apa? Tongkatku.” Ucap Shiho terkajut ketakutan melihat seorang malaikat di depannya, dan membuat tongkatnya hangus terbakar. Ia pun menjauh, namun tidak pergi, tujuannya belum tercapai. Membunuh Juna, keturunan bangsal Dewa Siluman.
                “Kau harus menyelamatkan desa ini. Kau tak boleh mati.” Ucap Mina tersenyum.
Mina berusaha berdiri dan menghampiri Shiho dengan terseret-seret sekuat tenaga, pemimpin Shiho itu pun terus melayang mundur menjauh.
                “Bawa aku terbang, Juna. Bukankah hanya malaikat yang dapat mengalahkannya? Katamu aku ini malaikat bukan?” ucap Mina lembut.
                “Apa yang akan kau lakukan?”
                “Bawa sajalah dan kau akan tahu.” Dengan khawatir, Juna membawa Mina melawan Shiho.
                “Apa yang kau lakukan wahai malaikat tak bersayap? Pergilah, aku tak takut!” teriak Shiho.
Satu tangan Juna menopang Mina, dan satunya bersiap menusukan pedang ke tubuh Shiho.
                “Musnahlah di tanganku! Hiyaaaaaa...” teriak Juna mengeluarkan api di sekujur pedang itu. Berbalut cahaya suci yang dikeluarkan Mina dari mulutnya. Mina berusaha sekuat tenaga.
                “Tidaaaaaak...!” teriak Shiho yang tak bisa menghindar. Akhirnya makhluk itu mati terbakar dan meledak di udara.
Juna dan Mina terbanting hingga jatuh ke tanah, Juna terbangun perlahan menahan rasa sakitnya. Ia menghamipiri tubuh Mina yang tak berdaya, tak bernafas dan dingin. Juna tak percaya, dia menangis sejadi-jadinya. Warga desa itu mulai berdatangan satu persatu melihat keadaan.
                Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari dalam tanah, terlihat seperti dua bidadari muncul dari balik cahaya itu.
                “Juna, inilah cara kami megalahkannya. Kami memasuki mimpi Mina, Mina sudah tahu semuanya. Berikanlah setengah jiwamu padanya, bila kau ingin dia tetap hidup.” Ucap sosok wanita cantik yang ditemani pria tampan yang tersenyum di sampingnya.
                “Ibu, Ayah?” hanya itu yang mampu terucap dari bibir Juna. Mereka pun menghilang kembali ke bumi.
                Akhirnya Juna memberikan setengah jiwanya pada Mina, dia mencium bibir Mina lembut, dan saat itu pula cahaya jiwa Juna berpindah ke dalam tubuh Mina. Tak lama kemudian, Mina membuka matanya.
                “Juna?” ucap Mina meneteskan air mata. Juna pun memeluk Mina dengan senang.
                “Aku akan menjagamu Mina.” Ucap Juna tersenyum. Menjaga yang berarti selamanya bagi Juna. Bola matanya kembali biru, gigi tajamnya hilang, kupingnya kembali menjadi kuping manusia, dan sayapnya kembali ke dalam tubuh Juna. Hatinya sudah tidak marah. Kini Juna kembali tampan layakya manusia biasa, hanya sedikit luka di mana-mana.
Apa yang terjadi pada Mina ketika jiwanya bercampur dengan jiwa Juna? Ya, dia tetaplah seorang malaikat, tapi kini dia seorag malaikat bersayap hitam. Desa Sunagakure kembali tentram dan damai. Kini semua warga desa tahu siapa sesungguhnya Juna. Itu pun membuat semua perempuan lebih memuja Juna. Tapi sayang, meski Juna sudah dimiliki oleh Mina, para fans Juna tak menyerah. Akhirnya, Juna akan tetap menjaga Desa Sunagakure ini bersama sang malaikatnya, Mina.

 Karya: Tantanet :)